Selasa, 30 April 2013

TOKOH WAYANG GARENG


             
Nama lengkap dari Gareng sebenarnya adalah Nala Gareng, hanya sajamasyarakat sekarang lebih akrab dengan sebutan “Gareng”.
Gareng adalah punakawan yang berkaki pincang. Hal ini merupakan sebuah sanepa dari sifat Gareng sebagai kawula yang selalu hati-hati dalam bertindak. Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangan yang ciker atau patah. Ini adalah sanepa bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak milik orang lain. Diceritakan bahwa tumit kanannya terkena semacam penyakit bubul.
Dalam suatu carangan Gareng pernah menjadi raja diParanggumiwayang dengan gelar Pandu Pragola. Saat itu dia berhasil mengalahkan prabu Welgeduwelbeh raja dari Borneo yang tidak lain adalah penjelmaan dari saudaranya sendiri yaitu Petruk.
Dulunya, Gareng berujud ksatria tampan bernama Bambang Sukodadidari pedepokan Bluktiba. Gareng sangat sakti namun sombong, sehingga selalu menantang duel setiap satriya yang ditemuinya. Suatu hari, saat baru saja menyelesaikan tapanya, ia berjumpa dengan satriya lain bernama Bambang Panyukilan. Karena suatu kesalahpahaman, mereka malah berkelahi. Dari hasil perkelahian itu, tidak ada yang menang dan kalah, bahkan wajah mereka berdua rusak. Kemudian datanglah Batara Ismaya (Semar) yang kemudian melerai mereka. Karena Batara Ismaya ini adalah pamong para ksatria Pandawa yang berjalan di atas kebenaran, maka dalam bentuk Jangganan Samara Anta, dia (Ismaya) memberi nasihat kepada kedua ksatria yang baru saja berkelahi itu.
Karena kagum oleh nasihat Batara Ismaya, kedua ksatria itu minta mengabdi dan minta diaku anak oleh Lurah Karang Dempel, titisan dewa (Batara Ismaya) itu. Akhirnya Jangganan Samara Anta bersedia menerima mereka, asal kedua kesatria itu mau menemani dia menjadi pamong para kesatria berbudi luhur (Pandawa), dan akhirnya mereka berdua setuju. Gareng kemudian diangkat menjadi anak tertua (sulung) dari Semar.
GARENG …………….. anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diambil anak angkat pertama oleh Semar. Nama lain gareng adalah : Pancalpamor ( artinya menolak godaan duniawi ) Pegatwaja ( artinya gigi sebagai perlambang bahwa Gareng tidak suka makan makanan yang enak-enak yang memboroskan dan mengundang penyakit. Nala Gareng (artinya hati yang kering, kering dari kemakmuran, sehingga ia senantiasa berbuat baik).
Gareng adalah punakawan kedua setelah Semar. ciri fisik Gareng :
  1. Mata juling……………. artinya tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan/ tidak baik.
  2. Tangan ceko (melengkung) ………………. artinya tidak mau mengambil/ merampas hak orang lain.
  3. Sikil gejik (seperti pincang) ………………. artinya selalu penuh kewaspadaan dalam segala perilaku.
Gareng senang bercanda, setia kepada tuannya, dan gemar menolong. Dalam pengembaraannya pernah menjadi raja bernama Prabu Pandu Bergola di kerajaan Parang Gumiwang. Ia sakti mandraguna, semua raja ditaklukkannya. Tetapi ia ingin mencoba kerajaan Amarta ( tempat ia mengabdi ketika menjadi punakawan).Semua satria pandawapun dikalahkannya. Sementara itu Semar, Petruk dan Bagong sangat kebingungan karena kepergian Gareng.
Untunglah Pandawa mempunyai penasehat yang ulung, yaitu Prabu Kresna. Ia menyarankan kepada Semar, jika ia ingin bertemu dengan Gareng relakanlah Petruk untuk untuk menghadapi Pandu Bergola. Semar tanggap dengan ucapan Krena, sedangkan hati Petruk menjadi ciut nyalinya. Petruk berfikir Semua raja juga termasuk Pandawa saja dikalahkan Pandu Bergola, apa jadinya kalau dia yang menghadapinya. Melihat kegamangan Petruk, Semar mendekat dan membisikkan sesuatu kepadanya. Setelah itu petruk menjadi semangat  dan girang, kemudian ia berangkat menghadapi Pandu Bergola.
Saat Pandu Bergola sudah berhadapan dengan Petruk, ia selalu membelakangi ( tidak mau bertatap muka), jika terpaksa bertatap muka ia selalu menunduk. Tetapi Petruk senantiasa mendesak untuk bertanding. Akhirnya terjadilah perang tanding yang sangat ramai, penuh kelucuan dan juga kesaktian. Saat pergumulan terjadi Pandu Bergola berubah wujud menjadi Gareng. Tetapi Petruk belum menyadarinya. Pergumulan terus berlanjut …….. sampai pada akhirnya Semar memisahkan keduanya. Begitu tahu wujud asli Pandu Bergola …… Petruk memeluk erat-erat kakaknya (Gareng) dengan penuh girang. semua keluarga Pandawa ikut bersuka cita karena abdinya telah kembali.
Gareng ditanya oleh Kresna, mengapa melakukan seperti itu. ia menjawab bahwa dia ingin mengingatkan tuan-tuannya (Pandawa), jangan lupa karena sudah makmur sehingga kurang/ hilang kehati-hatian serta kewaspadaannya. Bagaimana jadinya kalau negara diserang musuh dengan tiba-tiba? negara akan hancur dan rakyat menderita. Maka sebelum semua itu terjadi Gareng mengingatkan pada rajanya. Pandawa merasa gembira dan beruntung punya abdi seperti  Gareng.
Makna yang terkandung dalam kisah Gareng adalah :
  1. Jangan menilai seseorang dari wujud fisiknya. Budi itu terletak di hati, watak tidak tampak pada wujud fisik tetapi pada tingkah dan perilaku. Belum tentu fisiknya cacat hatinya jahat.
  2. Manusia wajib saling mengingatkan.
  3. Jangan suka merampas hak orang lain.
  4. Cintailah saudaramu dengan setulus hati.
  5. Kalau bertindah harus dengan penuh perhitungan dan hati-hati.
REFERENSI:
http://wayangprabu.com/2010/03/25/gareng/

Sabtu, 27 April 2013

Dukun di Era Globalisasi



Dukun atau bahasa kerennya paranormal sudah ada semenjak zaman dulu kala. Sampai sekarang peredaran paranormal pun mengikuti perkembangan zaman. Orang yang melakukan perdukunan biasanya tidak sendiri, mereka biasanya terdiri dari beberapa orang merupakan satu TIM yang modus operasinya adalah penipuan. Untuk mencari mangsa ada orang-orang yang bertindak sebagai orang yang mempromosikan bidang keahlian si dukun itu, padahal promosinya omong kosong dan penipu. Jika ada mangsa yang sudah masuk perangkap maka mulai diadakan perjanjian untuk pergi ke rumah sang Dukun. Dengan trik perdukunan si Mbah Dukun bisa menebak isi hati dan kemauan pasien, inilah salah satu penipuan yang bisa menjatuhkan martabat Dukun yang asli.



Pada mulanya Dukun adalah orang-orang penolong tanpa pamrih. Dengan adanya Penipu yang menyamar sebagai Dukun ini maka dikenalah istilah Perdukunan yang nilainya negatif di masyarakat luas yaitu diasosiakan sebagai Seorang penipu.

Bisa dilihat dari perkembangan namanya saja. Dulu dikenal dukun, sekarang ada paranormal. Bahkan ada yang menyebut “orang pintar”. (coba bandingkan, kita aja yang udah capek-capek kuliah ga disebut orang pintar juga). Dari segi meramalnya pun sudah modern. Yang dahulu pake kemenyan dan kembang tujuh rupa, sekarang sudah ada teknologi yang canggih. Hanya dengan sms ketik reg spasi weton kirim ke nomere simbah.

Secara teknologi, dukun pun mengalami era globalisasi (uiih..). Tidak hanya di dunia nyata, namun sudah merambah ke dunia maya. Contoh selain lewat “ketik reg”, beberapa waktu terakhir, saya sempat tergelitik melihat sebuah aplikasi di facebook. Aplikasi ini bisa meramal seseorang. Mulai aplikasi yang bisa meramal tentang pekerjaan 10 tahun kedepan, pernikahan, bahkan sempet saya pernah melihat ada yang bisa meramal kematian seseorang.

Hmm, aneh-aneh saja memang. Namun yang saya soroti disini adalah ketika seseorang menggunakan aplikasi tersebut, sadar atau tidak sadar akidah sesorang seperti tergadaikan. Saya yakin, seyakin-yakinnya, tidak ada unsur kesungguhan seseorang dalam mempercayai aplikasi semacam itu. Namun, dengan modal keisengan saja, setan bisa menjerumuskan manusia kedalam hal-hal yang mungkin sih kelihatan “remeh”, namun secara tidak sadar kita terbawa tipu daya setan, yaitu dosa besar (syirik).
Barangsiapa mendatangi dukun maka tidak akan diterima sholatnya selama 40 hari. (Shahih Muslim)
Iseng memang iseng. Tapi kalo udah bermain-main terhadap akidah, saya rasa itu bukan iseng namanya. Ya, tipu daya setan memang halus. Nasihat ini khususnya untuk diri saya pribadi dan semoga kita terhindar dari hal-hal yang dapat membatal keimanan, baik yang samar apalagi yang terlihat jelas. Nauzubillah min dzalik. Yang benar datangnya dari Allah, jika ada yang salah murni kesalahan saya sebagai manusia. Wallahu a’lam bisshowwab.


http://id.wikipedia.org/wiki/Perdukunan
http://darmawanpost.wordpress.com/2012/04/28/dukun-facebook/

KESIAPAN INDONESIA MENGHADAPI ERA GLOBALISASI



 Globalisasi berarti suatu proses yang mencakup keseluruhan dalam berbagai bidang kehidupan sehingga tidak nampak lagi adanya batas-batas yang mengikat secara nyata. Dalam keadaan global, tentu apa saja dapat masuk sehingga sulit untuk disaring atau dikontrol. Terkait dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, makna globalisasi memiliki dimensi luas dan kompleks yaitu bagaimana suatu negara yang memiliki batas-batas teritorial dan kedaulatan tidak akan berdaya untuk menepis penerobosan informasi, komunikasi dan transportasi yang dilakukan oleh masyarakat di luar perbatasan.
Globalisasi dalam arti literal adalah sebuah perubahan sosial, berupa bertambahnya keterkaitan di antara masyarakat dan elemen-elemennya yang terjadi akibat transkulturasi dan perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang memfasilitasi pertukaran budaya dan ekonomi internasional.
Globalisasi sesungguhnya sudah lama terjadi, yakni sejak abad 19, yaitu sejak adanya kontak dagang kerajaan-kerajaan di kepulauan Nusantara dengan para pedagang Eropa yang berujung pada penjajahan. Kemudian tingkat dan skala globalisasi juga kian pesat seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi serta kemenangan kekuatan kapitalis atas kekuatan sosialis/komunis.
Globalisasi sebenarnya netral, tergantung bagaimana kita mengartikannya. Ada yang menilai globalisasi sebagai sesuatu yang positif karena memberikan peluang dan kesempatan yang sama kepada siapapun untuk bermain secara global. Namun ada pula yang menilai negative, karena ketimpangan penguasaan sumber daya (terutama modal) serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berpotensi untuk menguntungkan negara kuat dan merugikan negara lemah.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia. Menurut data biro sensus Amerika, perkiraan jumlah penduduk Indonesia di tahun 2010 mencapai 242,968,342 yang menempatkan kita di urutan ke-empat negara berpenduduk terbanyak di dunia. Angka ini sedikit di atas Proyeksi Penduduk Indonesia oleh BPS, BAPPENAS, dan UNFPA yang memperkirakan penduduk Indonesia akan sebanyak 233,477,400 di tahun yang sama. Tiga negara di ranking teratas (Cina, India, dan Amerika Serikat) adalah mereka yang selain bersaing dalam jumlah penduduk juga bersaing dalam berbagai bidang strategis di dunia. Cina telah berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. India kini semakin ngebut dengan berbagai pengembangan teknologinya. Amerika sendiri, selain berusaha agar tidak sampai keteteran di arena balap dunia, tampaknya semakin gencar melakukan manuver politik untuk mendukung bidang-bidang lain. Amerika, Cina, India, dan negara-negara maju lainnya bersaing sekuat tenaga untuk menjadi pemimpin era globalisasi.
Ada beberapa kebijakan yang harus diterapkan Indonesia dalam menghadapi globalisasi, antara lain pembangunan SDM, pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, membuka jalur perdagangan dunia melalui kebijakan peningkatan eksor dan investasi, pengembangan akses permodalan terutama bagi pengusaha UKM, serta menjaga keseimbangan dengan alam.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa pembangunan SDM adalah faktor yang terpenting dalam menentukan kesiapan bangsa Indonesia dalam menghadapi globalisasi. Berdasarkan hasil survey pertumbuhan daya saing Asia oleh World Economic Forum (WEF), peringkat Indonesia terus menurun. Dari tahun 2001 di peringkat 64 dari 75 negara, tahun 2002 peringkat 67 dari 80 negara, tahun 2003 peringkat 72 dari 102 negara, tahun 2004 peringkat 69 dari 104 negara, dan tahun 2005 peringkat 74 dari 117 negara.
Sementara itu, dari hasil pemeringkatan Standard and Poor yang mengindikasikan kemudahan berbisnis, Indonesia hanya menempati ranking 131 dari 175 negara. Bahkan, ranking tersebut melorot jadi 135 pada tahun 2006. Lalu bagaimana solusinya?
Hal pertama yang mendasar adalah melakukan perubahan paradigma pola berpikir atas berbagai nilai, persepsi, dan praktek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta dalam pembangunan. Paradigma lama yang menjadikan negara sebagai poros pembangunan harus diubah dengan meletakkan masyarakat sebagai poros pembangunan. Maka, pola pembangunan juga harus memberdayakan masyarakat.
Memberdayakan masyarakat disini artinya menumbuhkan kepercayaan bagi tiap orang bahwa dirinya mampu lebih produktif dan berprestasi. Melalui pemberdayaan masyarakat sadar bahwa pembangunan sedang dilaksanakan, dan mereka punya kesempatan untuk melibatkan diri dalam pembangunan tersebut.
Lalu, bagaimana menumbuhkan kepercayaan masyarakat bahwa mereka memiliki kesempatan dan kemampuan untuk dapat terlibat dalam pembangunan? Disinilah peran pemimpin yang mengembangkan pola transformasional. Seorang pemimpin yang memahami arti pentingnya penguatan nilai-nilai kebangsaan untuk bangkit dan meningkatkan daya saing bangsa, yang responsive terhadap berbagai permasalahan yang ada di masyarakat, serta selalu siap menganalisis dan punya intuisi yang tinggi dalam melihat berbagai masalah bangsa secara komprehensif. Pemimpin yang juga paham dan menghayati konteks nilai, etika dan integritas kebangsaan, mengakui adanya interdependensi antara pemimpin dan rakyatnya, antara negara dan masyarakat, serta memiliki strategi integrasi yang kuat.
Di sini masalahnya. Saat kita membuka pintu bagi globalisasi, sudah siapkah masyarakat Indonesia? Sudah bisakah kita menciptakan produk global seperti Samsung yang beberapa tahun lalu masih menjadi produk gurem? Sudahkah para peneliti kita diminati oleh universitas dan lembaga penelitian besar di negara-negara maju layaknya para peneliti dari Cina, India, dan Korea Selatan? Atau yang lebih lokal, sudah sejauh manakah tingkat pendidikan masyarakat kita? Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang bisa membuat kita merasa seperti tenggelam di laut lepas.
Saat ini semakin banyak pusat-pusat budaya, bahasa, dan kajian regional di universitas-universitas luar negeri. Berkat usaha Ibu Pangesti Wiedarti, penulis Buku Kiat Memenangkan Beasiswa, kini telah dibuka program studi bahasa Indonesia di beberapa universitas di luar negeri. Hal ini merupakan satu kemajuan yang menunjukkan eksistensi kita di ajang globalisasi. Ini juga bisa menjadi sebuah media promosi pariwisata dan investasi bagi Indonesia. Namun kemajuan di satu sisi harus juga diimbangi di sini lain. Promosi gencar di luar negeri harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dalam negeri. Kalau tidak, bisa terjadi ketimpangan di pasar global.
Globalisasi yang kita alami ini nampaknya masih terbatas pada level atas. Masih banyak lapisan masyarakat yang belum siap terjun ke dalamnya. Namun apa daya, sebagai sebuah bangsa di jaman modern ini mau tidak mau kita akan terjangkit sindrom The World is Flat, seperti dibahas oleh Tom Friedman. Dunia tidak akan menunggu kita. Jangan harap Amerika atau Jepang mau menunggu sampai Indonesia siap untuk menerima segala macam serangan globalisasi mereka. Coca-Cola, McDonald’s, Starbucks, dan produk global lain akan semakin merajai pasar dari tahun ke tahun seiring meningkatnya konsumerisme masyarakat Indonesia. Nilai realisasi Penanaman Modal Asing yang membaik di awal tahun 2007 kemarin belum cukup untuk kita jadikan sebagai indikasi kesiapan dan kompetensi masyarakat Indonesia secara merata. Kebijakan pemerintah yang top-down harus disertai dukungan nyata sampai ke level paling bawah. Pemerintah tidak boleh hanya mengeluarkan berbagai macam kebijakan dan meninggalkannya begitu saja. Tanpa sosialisasi yang baik itu semua tak akan efektif.
Jumlah penduduk yang besar ini harus mampu kita jadikan suatu nilai lebih. Nilai lebih yang bisa memberikan keuntungan bagi Indonesia, bukan bangsa lain. Malu rasanya jika kita bertengger di urutan ke-4 dunia dalam jumlah penduduk namun ternyata hanya berada di urutan ke-108 pada ranking Kualitas Sumber Daya Manusia 2006 yang dikeluarkan oleh UNDP. Sudah barang tentu ini kewajiban kita semua untuk bisa bersaing di ajang internasional. Masing-masing dari kita harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang bisa terjadi. Kita harus benar-benar menjadi pemain global yang diperhitungkan dan muncul sebagai salah satu kekuatan baru Asia Pasifik, bukan sekedar penggembira. Siapa yang tak ingin melihat nantinya akan ada franchise Nasi Pecel tersebar di luar negeri? Kita juga berharap nama-nama profesor Indonesia tercetak di buku-buku teks terbitan McGraw Hill, Houghton Mifflin, dan Princeton Review bukan? Untuk itu kita membutuhkan suatu pembenahan mendasar yang sangat mendasar sehingga menyentuh tiap individu yang menghirup oksigen di Nusantara ini. Kitalah yang harus melakukannya. Jika pembenahan dari atas sulit dilakukan, maka kita mulai dari bawah. Jangan menunggu lagi, karena kita tak mau hanya jadi pasar!

Minggu, 07 April 2013

tugas soft skill

PETA INDONESIA



Sejarah kalimantan utara

Dalam sejarahnya negeri-negeri di bagian utara pulau Kalimantan, yang meliputi SarawakBrunei dan sebagian besar Sabah adalah wilayah mandala negara Kesultanan Brunei yang berbatasan dengan mandala negara Kerajaan Berau.[2] Sejak masa Hindu hingga masa sebelum terbentuknya Kesultanan Bulungan, daerah yang sekarang menjadi wilayah provinsi Kalimantan Utara hingga daerahKinabatangan di Sabah bagian Timur merupakan wilayah mandala negara Berau yang dinamakan Nagri Marancang.[3] Namun belakangan sebagian utara Nagri Marancang (alias Sabah bagian Timur) terlepas dari Berau karena diklaim sebagai wilayah mandala Brunei, kemudian oleh Brunei dihadiahkan kepada Kesultanan Sulu dan Suku Suluk mulai bermukim di sebagian wilayah tersebut.[4] Kemudian kolonial Inggris menguasai sebelah utara Nagri Marancang dan Belanda menguasai sebelah selatan Nagri Marancang (sekarang provinsi Kaltara).[5][6]
Wilayah yang menjadi propinsi Kalimantan Utara merupakan bekas wilayah Kesultanan Bulungan dan Kerajaan Tidung. Kedua-duanya, yaitu negeri Kesultanan Bulungan dan negeri Kerajaan Tidung merupakan bekas daerah bagian milik dari negara Berau yang telah melepaskan diri, namun kemudian menjadi daerah perluasan pengaruh Kesultanan Sulu.[7] Namun Kerajaan Beraumenurut Hikayat Banjar termasuk salah satu vazal atau negara bagian di dalam mandala negara Kesultanan Banjar sejak zaman dahulu kala, ketika Kesultanan Banjar masih bernama Kerajaan Negara Dipa (masa Hindu).[8] Sampai tahun 1850, negeri Bulungandan negeri Tidung masih diklaim sebagai negeri bawahan dalam mandala negara Kesultanan Sulu [bekas bawahan Brunei].[9]Namun dalam tahun 1853, negeri Bulungan dan negeri Tidung sudah dimasukkan dalam wilayah Hindia Belanda atau kembali menjadi bagian dari Berau.[10] Walaupun belakangan negeri Bulungan dibawah kekuasaan Pangeran dari Brunei dan negeri Tidung dibawah kekuasaan menantu Raja Tidung yang merupakan Pangeran dari Sulu, namun kedua negeri tersebut masih tetap termasuk dalam mandala negara Berau. Berdasarkan perjanjian antara negara Kesultanan Banjar dengan VOC Belanda yang dibuat pada tanggal 13 Agustus 1787 dan 4 Mei 1826, maka secara hukum negara Kesultanan Banjar menjadi daerah protektorat VOC Belanda dan beberapa daerah bagian dan negara bagian yang diklaim sebagai bekas vazal Banjar diserahkan sebagai properti VOC Belanda, maka Kompeni Belanda membuat batas-batas wilayahnya di Borneo (Kalimantan) berdasarkan perjanjian tersebut yaitu wilayah paling barat adalah negara bagian Sintang, daerah bagian Lawai dan daerah bagian Jelai (bagian dari negara bagianKotawaringin) sedangkan wilayah paling timur adalah negara bagian Berau.[11] Negara bagian Berau meliputi negeri kesultanan Gunung Tabur, negeri kesultanan Tanjung/Sambaliung, negeri kesultanan Bulungan & distrik Tidung alias mantan Kerajaan Tidungyang dihapuskan tahun 1916.[12] Berdasarkan peta Hindia Belanda tahun 1878 saat itu menunjukkan posisi perbatasan jauh lebih ke utara dari perbatasan Kaltara-Sabah hari ini, karena mencakupi semua perkampungan suku Tidung yang ada di wilayahTawau.[13]
Proses pemekaran Kalimantan Utara menjadi suatu provinsi terpisah dari Kalimantan Timur telah dimulai pada tahun 2000-an.[14][15] Setelah melalui proses panjang, pembentukan provinsi Kalimantan Utara akhirnya disetujui dalam rapat paripurna DPR pada tanggal 25 Oktober 2012.[16][17]

[sunting]Pemerintahan

Pada saat dibentuknya, wilayah Kalimantan Utara dibagi menjadi 5 wilayah administrasi, yang terdiri dari 1 kota dan 4 kabupaten sebagai berikut:
Seluruh wilayah ini sebelumnya merupakan bagian dari wilayah Kalimantan Timur.
PeringkatKabupaten/KotaPopulasiIbukota
1Kota Tarakan289.973-
2Kabupaten Nunukan181.567Nunukan
3Kabupaten Bulungan153.322Tanjung Selor
4Kabupaten Malinau82.460Malinau
5Kabupaten Tana Tidung30.841Tideng Pale

[sunting]referensi

http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Utara




Rasa lapar memang terkadang menyerang tanpa kenal waktu ya, terkadang lewat tengah malam pun perut malah tidak bisa berkompromi ingin segera menyantap sesuatu untuk diisi. Tapi yang ada malah kebingungan karena masakan makan malam malah tak tersisa. Hmmm masak apa ya yang praktis namun mengenyangkan? Nah sepertinya resep nasi goreng merupakan pilihan yang tepat di saat seperti ini. Tak perlu keluar rumah untuk membelinya karena resep nasi goreng pasti bisa anda buat di rumah dengan bahan-bahan yang sederhana.
Resep nasi goreng ternyata banyak sekali macamnya lho pembaca. Ada resep nasi goreng tradisional khas jawa yang banyak dijual di sepanjang jalan, ataupun resep nasi goreng modern dengan menggunakan seafood ataupun kari dan rasa-rasa yang lainnya. Untuk anda yang menginginkan resep nasi goreng lezat nan simple, silahkan intip resep dibawah ini.
BAHAN:
250 gr nasi putih
100 gr udang sedang, kupas
5 buah bakso sapi, iris bulat
50 gram kacang polong
2 batang daun bawang iris halus
1 sdm saus cabai
1/4 buah tomat merah, iris
2 sdm minyak untuk menumis
1 sdm kecap manis
1 sdm kecap asin
1 sdt ang ciu
Pelengkap: telur mata sapi dan kerupuk udang
BUMBU HALUS:
2 siung bawang putih
3 butir bawang merah
1 buah cabai merah
1/4 sdt merica
garam secukupnya
CARA MEMBUAT:
1. Panaskan minyak, tumis bumbu halus sampai harum, masukkan daun bawang, dan
tomat, aduk rata. Tambahkan udang dan bakso, aduk rata.
2. Masukkan nasi putih, tambahkan saus, kecap manis, kecap asin, dan ang ciu,
aduk rata, angkat.
3. Sajikan hangat dengan taburan bawang goreng, kerupuk udang, telur mata sapi,
dan acar ketimun.

4.apabila saya jadi pemimpin 2/3 wilayah perairan,maka saya akan membuat jalur transfortasi yang menghubungkan antar pulau,supaya memudahkan masyarakat dalam berhubungan perdagangan dan memudahkan jalur transportasi,
selain itu saya akan mengelola penuh kekayaan alam yang terdapat d perairan.